Friday, 12 May 2017

ACEH ATAU BARUS TITIK NOL ISLAM NUSANTARA


Aceh atau Barus tidak bermakna option dan diminta untuk memilih, tetapi diskursus pada gate mana awal Islam di Nusantara. Dan tidak juga di orkestrasi bahwa Aceh gate Islam Asia Tenggara dan Barus gate Islam Nusantara. Jika itu asumsinya, maka akan terjadi perdebatan semantik mengenai kata Nusantara. Namun, yang diinginkan bagaimana  masa lalu berbicara apa adanya tanpa pemaksaan sejarah. Memori publik saat ini memaklumi bahwa Aceh gate pertama Islam dan kemudian menyebar keseluruh penjuru Nusantara. Dan belakangan, Barus ditabalkan  titik nol Islam Nusantara sehingga banyak pihak terkejut, seperti kehilangan pengetahuan bahkan muncul reaksi berbeda - beda. Reaksi itu dapat dipahami karena berbeda seperti lazimnya diketahui. Sebenarnya, bagi masyarakat Aceh mengenai gate Islam Nusantara sudah final dan sudah tutup buku. Artinya, sudah dipahami bersama bahwa gate Islam pertama di Nusantara adalah Aceh. Maknanya Aceh adalah titik nol Islam Nusantara. Meskipun tidak menafikan wacana-wacana akademis - dialogis berkaitan Islam Nusantara, apalagi menyangkut sejarah. Meskipun demikian, kita harus melihat hal ini dengan jernih dan penuh kearifan. Akan selalu ada tesa, anti tesa dan sintesa dalam kajian ilmu pengetahuan, seperti dalam perbicangan ilmu pendidikan. Ada paham Nativisme, Empirisme maupun Konvergensi, tentu kita yakini bahwa masing-masing memiliki landasannya.
Dalam sejarah Nusantara, Aceh dan Barus kerap dibincangkan sejarawan sebagai titik nol Islam Nusantara, karena dua daerah ini dianggap sebagai gate masuk dan berkembang Islam di Nusantara. Hal ini diyakini bukan tanpa dasar, tetapi didasari pada residual sejarah yang ditemukan.  Wilayah ini belakangan dikenal luas di Nusantara bahkan di manca negara. Popularitas kedua wilayah tersebut  mengundang perhatian semua pihak,  baik sejarawan,  akademisi, ilmuwan maupun para pihak yang peduli dengan sejarah. Disisi lain, tidak dipungkiri bahwa  begitu pelik ketika masa lampau dipahami di era modern. Ini disebabkan  karena orang - orang yang hidup saat ini tidak pernah terlahir di era ketika Islam datang.  Pengetahuan menjadi terbatas, yang dapat dilakukan yakni melakukan konfirmasi pada data sejarah. 
Aceh diaksentuasi sebagai gate pertama Islam Nusantara,  konklusi ini dilandasi dengan data - data hasil eksplorasi dan banyak sejarawan mengakuinya.  Artinya, ini bukan sebuah penyataan naratif  deskriptif minus data. Bahkan sudah dibincangkan dalam sebuah seminar masuknya Islam di Nusantara di Rantau, Kuala Simpang pada tahun 1980. Uniknya lagi, beberapa waktu lalu Barus ditabalkan titik nol Islam di Nusantara, maka sejarah yang akan kita baca berbeda lagi. Sehingga posisi Barus mempunyai peran penting dalam Islamisasi. Aceh dan Barus secara geografis berada di kepulauan Sumatera dan bukan wilayah di luar Nusantara. Dan kita bangga bahwa Nusantara (Indonesia) wilayah pertama gate Islam Asia Tenggara. Ini menjadi warisan sejarah bangsa dan harus dijaga bersama.
Supaya tidak terjadi kebingungan sejarah dan semua pihak tidak terjebak dalam asumsi - asumsi personal.  Maka tidak ada salahnya  jika hal ini diskusikan secara akademis sebagai bentuk pelurusan  sejarah Nusantara. Ini penting dilakukan untuk menyamakan persepsi kembali dalam rangka antisipasi terjadi simpang siur sejarah. Kemudian, harus diingat bahwa semua data, baik di Aceh maupun Barus merupakan warisan atau khazanah Nusantara dan milik rakyat Indonesia. Semua kebanggan kita terhadap Aceh dan Barus adalah kebanggaan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Dan kita bersyukur bahwa Islamisasi di Nusantara berjalan baik dan damai.

Wacana akademis ini pantas dan layak dilakukan dalam bentuk ‘Seminar Nasional’ dan melibatkan semua pihak yang mengerti dan peduli sejarah.  Tidak hanya sejarawan,  akademisi,  cendikiwan,  ulama bahkan pemerintah harus proaktif untuk mendiskusikan sejarah Islam Nusantara.  Hasil seminar tersebut akan menjadi sejarah permanen atau dapat dipatenkan supaya tidak diperdebatkan lagi di kemudian hari.  Hanya ‘Seminar Nasional’ sebagai solusi untuk memperbicangkannya sehingga semua pertanyaan akademis dapat terjawab. Kita menyambut baik upaya penggalian sejarah bangsa, dan yang lebih penting lagi adalah perawatan sejarah.  Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah.  Kita satu bangsa dan kita semua bersaudara, kita tidak harus bertengkar dan berdebat tanpa akhir. Saat ini, yang dibutuhkan adalah ‘Kesepakatan Nasional’ berdasarkan data yang akurat. Paling tidak semua pihak diberi kesempatan untuk memaparkan data,  mengomentari, menganalisis dan memberi pandangan.  Dan  seminar tersebut, setidaknya akan menjadi event silaturahmi nasional untuk menentukan sejarah bangsa mengenai Islam Nusantara. 

No comments:

Post a Comment