Wednesday, 3 May 2017

PEMIMPIN AKAN DIPUJI DAN DICACI

PEMIMPIN AKAN DIPUJI DAN DICACI

A. PENDAHULUAN

Pemimpin (leader) menempati posisi strategis, dilihat dari fungsi dan otoritas yang melekat pada dirinya sebagai dampak dari jabatan yang diemban. Ketika diberikan tanggung jawab dan bersedia untuk menerima tugas tersebut, maka harus teguh dan kuat keyakinannya untuk membawa lembaga menuju tujuan (goal) yang ditetapkan. Meskipun dalam menjalankan kepemimpinan memiliki sejumlah rintangan yang menghadang, itu semua adalah konsekwensi dari sebuah kepemimpinan (leadership). Jangan mengeluh, jangan putus asa dan jangan paranoid ketika problematika menghampiri. Harus tegas dan berdiri kokoh serta searching (mencari) alternatif ide atau solusi agar semua problematika dapat dipecahkan dengan sebaik-baiknya.
Dalam konteks politik maupun konteks sosial, hampir semua lembaga mengatur tata cara atau mekanisme untuk menjadi pemimpin. Jadi, tidak serta merta seseorang menjadi pimpinan. Tentu, ada proses yang melatar belakanginya, aturan tersebut dibuat untuk menjaring kapabilitas, loyalitas, komitmen dan integritas pemimpin. Variabel ini adalah kriteria seorang pemimpin.  Banyak orang ingin sekali jadi pimpinan, buktinya adalah ketika setiap event pemilihan yang digelar banyak dari masyarakat yang mendaftar untuk menjadi pimpinan, baik mendaftar menjadi Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, Kepala Desa maupun Pimpinan Organisasi. Meskipun sebelum event itu ditabuhkan sudah mundur dari rencana atau pencalonan dan ada yang tetap ikut kompetisi kepemimpinan. Setidaknya, animo dan keinginan untuk memimpin sangat tinggi yang kemudian mendorong seseorang untuk mendaftar menjadi seorang pemimpin. Walaupun mereka mengetahui bahwa ada suka dan duka dalam memimpin. Tetapi tidak akan menyurutkan keinginannya untuk tampil sebagai seorang pemimpin publik atau organisasi lainnya.


1. Masalah Muncul Karena Kebijakan
Pada saat mengambil keputusan untuk menjadi pimpinan, maka pada saat itu juga harus siap untuk mengabdi kepada rakyat atau masyarakat dan anggota organisasi yang dipimpinnya, baik itu lembaga pemerintahan, politik, pendidikan, sosial dan lain-lain. Kemudian juga harus siap dengan kritikan dan hujatan serta pujian yang akan diterimanya sebagai kado (gift) kepemimpinan. Kondisi diatas adalah konsekwensi dari kepemimpinan yang tidak terelakkan, manakala tongkat kepemimpinan berada ditangannya.
Permasalahan itu muncul bisa saja dari internal lembaga maupun eksternal. Masalah  sering sekali terjadi akibat kebijakan (policy) atau keputusan (decision)  yang diambil pimpinan. Suka dan tidak  suka, pimpinan harus mengambil keputusan untuk memajukan lembaga. Apakah, keputusan itu dipandang tepat atau tidak tepat. Pastinya, sebelum mengambil keputusan sudah dipikirkan dan didiskusikan terlebih dahulu. Setidaknya, keputusan yang diambil harus dianalisis atau diprediksi kemungkinan kekeliruan yang terjadi sehingga tidak mendapat protes dari berbagai pihak. Kalau keputusan tersebut bermanfaat dan menyentuh kepentingan publik, maka pemimpin tersebut akan mendapat apresiasi yang tinggi, dan sebaliknya, akan menuai kritik, protes dan cacian dimana-mana.

2. Benar Dipuji Dan Salah Dicaci
Fenomena saat ini dan yang terlihat dihadapan kita, dimana Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, Kepala Desa dan Pimpinan Organisasi sering sekali menjadi sasaran kritikan dan cacian. Bahkan ada kritikan yang tidak berdasar dan tidak logis, namun inilah konsekwensinya. Dan ada juga kritikan yang berdasar setelah dilihat esensi dari keputusan tersebut tidak memiliki manfaat untuk publik,  justeru manfaat itu untuk kelompok dan golongannya saja. Meskipun demikian, pemimpin harus mampu memberikan argumentasi yang logis atas keputusan yang diambilnya. Dan jangan mengeluh, seolah-olah itu bukan keputusannya, jadi keputusan siapa atau adakah orang lain yang memimpinnya, atau orang lain mengambil keputusan sementara dirinya tidak mengetahuinya atau ada pihak lain yang mempengaruhi keputusannya. Sungguh ironi, jika situasi tersebut terjadi pada diri seorang pimpinan. Pemimpin tidak boleh menjadi patung dan hanya menjadi simbol saja serta memposisikan dirinya sebagai tempat legalisasi atas semua keputusan yang diambilnya. Padahal keputusan tersebut  bukan dibuat oleh dirinya, namun  usulan dari bawahannya. Pada akhirnya, pemimpin tersebut akan terkarantina oleh keputusannya sendiri.
Semua keputusan yang keluar atau diterbitkan suatu lembaga, itu semuanya adalah keputusan lembaga yang mencerminkan keputusan pimpinan. Karena, pimpinan ada dalam keputusan tersebut dan dia yang memutuskan untuk dilaksanakan. Nah, kenapa harus bersedih dan lari dari permasalahan yang muncul. Hadapilah dengan sepenuh hati dan nyatakan bahwa itu adalah keputusan saya dan lembaga. Pemimpin seperti ini akan menunjukkan kewibawaan (gezag) di depan publik atau anggota lembaganya.
Pujian adalah reward atas kerja kerasnya selama memimpin, sementara  cacian adalah punisment (hukuman) atas kelalaian atau kekeliruan dalam mengambil keputusan dalam kepemimpinannya. Reward dan punisment adalah dua kondisi yang sering didapati seorang pemimpin. Bagi pemimpin yang tangguh mampu mengubah kondisi tesebut menjadi motivasi agar tetap tegar dan kuat dalam memimpin. Dan tidak terjebak dalam euforia atas pujian yang diperolehnya dan kesedihan yang mendalam atas cacian atau kritikan yang didapatnya. Pada akhirnya, pemimpin terkarantina  dalam emosional atas reward dan gagal akibat punisment yang menyentak psikologisnya. Benar akan terus dipuji dan salah akan terus dicaci dan begitulah seterusnya dalam perjalanan kepemimpinan, kondisi tersebut tidak bisa diubah, sepertinya sudah menjadi law of nature  (hukum alam). Salahkah yang memuji atau benarkah yang memuji dan benarkah yang mencaci atau salahkah yang mencaci. Semua itu dinilai atau diukur dari tepat atau tidak tepat keputusan yang diambil seorang pimpinan. Situasi seperti ini  akan terus dihadapi pemimpin yakni dipuji dan dicaci oleh rakyat atau anggotanya. Pemimpin harus siap menghadapi gelombang ini, karena yang dipimpinya itu adalah lembaga publik. Jika lembaga yang dipimpinnya bukan lembaga publik maka situasi itu sangat jarang menimpa dirinya. Mengapa, karena dalam lembaga yang dipimpinnya bukan lembaga publik dan tidak banyak  menyentuh kepentingan masyarakat didalamnya.

3. Jangan Paranoid Dan Harus Teguh Pendirian
Paranoid adalah penyakit psikologis yang akut dan merusak jiwa. Penyakit ini tidak boleh melekat pada diri pemimpin. Pemimpin harus bebas dari virus paranoid ini, sebab dapat merusak kepemimpinannya. Kepemimpinan sangat berharga dan mulia, karena itu jangan dipertukarkan dengan penyakit paranoid. Paranoid tidak bernilai dan tidak berharga, maka menjauhlah dari aktifitas penyakit ini. Pemimpin harus tangguh dan  kuat yang berdiri tegak menatap kedepan serta siap beradaptasi dengan berbagai kondisi, baik kondisi politik maupun kondisi sosial terbentang dihadapanya bagaikan batu karang. Lewatilah semua problematika itu dengan hati yang jernih, kearifan, kebijaksaan, keberanian dan penuh tanggung jawab (responsibility).
Kenapa harus terjebak dalam kondisi paranoid, jika memang benar maka hadapilah dan jelaskanlah. Menghindari kritikan dan menjauhi solusi dari rakyat atau anggotanya,  maka prilaku itu tidak fair dan tidak rasional bagi seorang pimpinan.  Mendengarkan kritikan atau cacian itu penting untuk penyempurnaan kebijakan atau keputusan yang diambil. Mungkin saja yang dikritiknya itu benar, maka ambillah kebaikan dari kritikan tersebut. Belum tentu kritikan  itu tidak memiliki landasan yang kuat dan tidak suka (dislike) kepada pemimpin. Bahkan adakalanya kritikan itu dilontarkan  untuk kebaikan kepemimpinannya dan kebaikan untuk masyarakat.
Mengapa pemimpin harus teguh pendiriannya, jika saja pemimpin tidak teguh pendirian. Maka akan menggangu stabilitas psikologis dan kepemimpinannya. Akibatnya, kebijakan atau keputusan yang diambil menjadi tidak kuat dan akan terkesan asal - asalan. Yakinlah pada keputusan, meskipun keputusan itu keliru atau salah, namun setidaknya pemimpin tersebut sudah mampu membuat keputusan. Dan perjuangkanlah keputusan itu dan jangan biarkan keputusan tersebut dinilai bukan keputusan atau kebijakannya. Meskipun, secara perlahan-lahan diperbaiki untuk penyempurnaan-penyempurnaan lebih lanjut. Oleh karena itu, pemimpin jangan paranoid  dan menghindari komunikasi dengan orang yang mengkritiknya dan tetap yakinkan diri bahwa keputusan  tersebut sudah tepat, meskipun selalu ada ruang untuk perbaikan-perbaikan nantinya.

B. PENUTUP
Pemimpin dalam sistem demokrasi berbeda dengan pemimpin pada sistem monarchi. Sistem demokrasi pemimpin dibentuk oleh pendidikan dan lingkungan. Dua hal ini berkontribusi menempa dan membentuk seseorang menjadi pemimpin. Meskipun potensi juga peran dan mendorong seseorang tampil menjadi pemimpin, namun potensi tersebut tidak akan berkembang manakala pendidikan dan lingkungan atau mileu tidak memainkan perannya. Pemimpin dalam sistem monarchi, ketika terlahir sudah menjadi pemimpin karena sistem telah membentuk dan menentukannya. Meskipun individu tersebut tidak di dukung oleh pendidikan dan lingkungan, jadi pemimpin dibentuk hanya karena faktor hideritas (keturunan). Pemimpin dalam sistem demokrasi dan sistem monarchi sama-sama mengalami situasi dipuji dan dicaci, manaka kepemimpinanya tidak mensejahterakan dan memberikan keadilan kepada rakyat.

No comments:

Post a Comment