Wednesday, 3 May 2017

SIMBIOSIS ALUMNI DAN ALMAMATER

SIMBIOSIS ALUMNI DAN ALMAMATER

A. PENDAHULUAN
Perguruan tinggi STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa (sekarang IAIN Langsa) memiliki historis dan identitas yang kuat dihati masyarakat Aceh dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Lebih khusus lagi masyarakat di tiga Kabupaten/Kota yakni masyarakat Aceh Timur, Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang. Akar sejarah dimulai ketika Seminar masuknya Islam di Nusantara yang digelar di Rantau Pertamina, Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang tahun 1980. Hasil Seminar tersebut telah meneguhkan kecintaan dan sense of belonging terhadap keangungan (greatness) lembaga pendidikan tinggi Islam pertama dan tertua di Asia Tenggara yakni ‘Zawiyah Cot Kala’. Lembaga ‘Zawiyah Cot Kala’ ikon pendidikan tinggi Islam di Indonesia dan Asia Tenggara yang didirikan pada tahun 899 M  di Aramiyah - Bayeun, Aceh Timur. Zawiyah Cot Kala adalah residual peradaban  dan kekayaan peradaban (civilization) yang hidup ditengah penyebaran Islam (Islamisasi) di Nusantara dan Asia Tenggara.  
Hasil Seminar Masuknya Islam di Nusantara tersebut telah merekomendasikan pendirian perguruan tinggi Agama Islam di Kabupaten Aceh Timur (sebelum pemekaran) yakni pendirian IAI Zawiyah Cot Kala Langsa. Nama ‘Zawiyah Cot Kala’ diambil (taken) untuk mengenang atau merefresh kebesaran dan keangungan (greatness) ‘Zawiyah Cot Kala’, dan ini sebagai bentuk pay respect atas inovasi dan karya anak bangsa dalam mekonstruksi lembaga pendidikan Tinggi Islam terbesar di Asia Tenggara. Tokoh inisiasi atau lokomotif pendirian perguruan tinggi IAI Zawiyah Cot Kala Langsa adalah Hasan ZZ, Arifin Amin, Azhar Zakarya, Drs. H. Zainuddin Saman dan Idris Harahap. Mereka adalah para cendikiawan Muslim visioner yang telah meneguhkan komitmen dan loyalitasnya untuk lembaga pendidikan. Karya monumentaI mereka telah mencerdaskan (educate) generasi bangsa dan ribuan  intelektual Islam tercerahkan (enlightened)  yang terlahir dari rumah intelektual (intellectual home) yakni STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa (sekarang IAIN Langsa).
Dinamika waktu telah mengharuskan perguruan tinggi ini merespons perkembangan dunia pendidikan Islam sehingga transformasi menjadi keniscayaan sejarah.  Transformasi gradual ini dimulai pada titik nol yakni IAI Zawiyah Cot Kala Langsa, STAI Zawiyah Cot Kala Langsa, STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa dan IAIN Langsa pada tahun 2014. Transformasi yang terakhir ini, sepertinya bukan titik ending. Namun menjadi babak baru transformasi menuju UIN (Universitas Islam Negeri) di suatu hari kelak.
Transformasi STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa menjadi IAIN Langsa yang tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 146 tahun 2014 tidak tertera nama ‘Zawiyah Cot Kala’ dibelakang IAIN Langsa. Padahal nama tersebut mempunyai akar historis dan indentitas sebuah perguruan tinggi. Jika, nama ‘Zawiyah Cot Kala’ tidak ditabalkan lagi maka akan terputus mata rantai (break the chain) sejarah. Sehingga kebesaran dan keagungan nama ‘Zawiyah Cot Kala’ yang melekat selama 34 tahun pada perguruan tinggi IAIN Langsa hilang dalam transformasi dan ribuan alumni akan kehilangan identitas almamaternya.

1. Alumni  Sebagai Anak Kandung Akademis Kampus
Alumni atau alumnus adalah individu yang mapan secara intelektual, dimana alumni telah mengkonsumsi beragam pengetahuan dari lembaga yang telah melahirkannya. Jika perguruan tinggi yang  membentuknya, maka perguruan tinggi tersebutlah yang menjadi sandaran moral dan pengetahuannya. Potensi yang ada pada dirinya dibentuk dan dikembangkan dengan sejumlah paket pembelajaran. Pada perguruan tinggi dikenal dengan tri darma sebagai paket substansinya. Secara ontologis, tri darma adalah esensi dari sebuah rancang bangun untuk kelahiran generasi intelektual, yang kemudian disebut ‘alumni’. Ketika masih belajar, alumni tersebut diberi gelar  student of university  (mahasiswa). Durasi waktu yang berbatas dan semua dinamika keilmuan dan kultural didalamnya telah menghantarkan alumni menjadi individu elit dalam komunitas sosial, ini dilihat dari kultur kapital yang dimilikinya.  
Terlepas dari semua kompetensi yang ada pada dirinya, namun setidaknya alumni telah melewati semua examination (pengujian) yang dipersyaratkan padanya untuk dinyatakan sebagai alumni. Oleh karena itu, alumni  disebut sebagai anak kandung akademis perguruan tinggi. Darah akademik telah mengompa jantung intelektual dan mengalir pada seluruh tubuhnya. Darah akademik ini dapat dilihat pada pola pikir, sikap, wawasan dan prilakunya yang merupakan refleksi dari pengetahuan yang diperolehnya diperguruan tinggi. Oleh sebab itu,  perguruan tinggi tidak dapat melepaskan diri dari ikatan darah akademik tersebut, darah akademik tersebut akan mewarnai kehidupannya, dimanapun dan kapanpun. Meskipun like and dislike dominan dalam relasi alumni dan perguruan tinggi. Sesungguhnya, fenomena tersebut adalah bentuk kecintaan diantara keduanya.

2. Almamater  adalah Identitas Substantif
Almamater adalah nama lain untuk menyebut tempat dimana alumni pernah belajar dan menamatkan pendidikannya. Jika STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa (Sekarang IAIN Langsa) sebagai tempat belajarnya, maka kampus tersebut adalah almamaternya atau home intellectual. Almamater adalah identitas substantif, dilihat dari identitas dan kharateristik  perguruan tinggi tersebut. Indentitas ini tidak hanya dilihat dari simbol-simbol atau atribut perguruan tinggi. Namun, lebih luas lagi yakni kepada sifat dan kharakter lembaga dan keilmuan yang dikembangkan. Alumni sebagai pemilik almamater, kepemilikan ini tidak dalam bentuk kelembagaan atau struktur bangunan dan fasilitas, akan tetapi lebih kepada identitas lembaga. Sifat dan indentitas almamater itu melekat pada diri alumni dan memiliki hak untuk membawa kebesaran nama almamater dalam kehidupannya.
Keberhasilan almamater juga diukur dari keberhasilan alumni dan kiprahnya dalam struktur sosial. Jika alumni kapabel dan mampu beradaptasi dalam struktur sosial, maka grade  almamater akan meningkat secara otomatically. Pada sisi lain, Almamater juga memiliki kewajiban untuk membina dan mengembangkan potensi alumni supaya kapasitas keilmuan yang diwariskan pada dirinya dapat fungsional dalam kehidupan sosial.
3. Hilangnya Nama Zawiyah Cot Kala
Sejarah atau history adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Sejarah adalah residual masa lalu, meskipun bersifat residual tetapi menyimpan jutaan kreasi dan pemikiran didalamnya. Inilah yang disebut sebagai peradaban manusia. Peradaban adalah bagian dari kebudayaan manusia,  karena kebudayaan dapat membawa suatu bangsa menjadi maju dan berkembang.
Sejarah dapat membimbing kehidupan  dan mendidik generasi masa depan, karena sejarah memiliki values atau nilai-nilai. Nilai – nilai tersebut menjadi source edukatif dan inspiratif bagi manusia. Melupakan sejarah, sama halnya melupakan dan meninggalkan pengetahuan (knowledge) yang terbentang luas dalam lautan masa lalu. Nama ‘Zawiyah Cot Kala’ adalah sejarah, jika melupakannya maka merupakan nestapa dan kepiluan yang mendalam bagi sebuah karya monumental anak bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.
   
4. Bukan Resistensi Tetapi Sebuah Kecintaan
Kecintaan adalah  gambaran suasana psikologis yang terlihat pada prilaku (behavior) untuk meneguhkan rasa memiliki,  rasa kasih dan sayang. Ekspresi kecintaan itu bervariasi prilakunya. Prilakunya bisa berbentuk kritikan, saran, koreksi, dan kontribusi. Kecintaan itu harus dipahami secara komprehensif dan luas.  Jika tidak dipahami dengan bijak dan arif, maka kecintaan akan disalah artikan dan berakibat pada suatu kesimpulan yang negatif dan kecintaan akan dimaknai dengan resistensi. Resistensi sangat berbeda dengan kecintaan. Resistensi adalah sebuah penolakan yang serius dan cenderung bermakna negatif.  Karenanya, kritikan dan permintaan pengembalian nama ‘Zawiyah Cot Kala’ oleh alumni adalah sebuah bentuk kecintaan pada almamater dan bukan sebuah resistensi terhadap pimpinan kampus. Justeru alumni bahagia terhadap perkembangan almamaternya.

5. What’s In A Name  Dan  Naming Is Knowledge
Fenomena distingsi antara ‘what’s in a name’ (apalah arti sebuah nama) dan ‘naming is knowledge’ (penamaan adalah pengetahuan). Distingsi  ini mempunyai makna yang berbeda  dan membuka ruang diskusi dalam menemukan interpretasi dan pemahaman substansi dari keduanya pernyataan diatas.
Sastrawan dan dramawan asal Inggris, W Shakespeare mengatakan what’s in a name (apalah arti sebuah nama). Ini merujuk pada kalimat ‘that which we call a rose by any other name would smell as sweet’. Bunga mawar kita sebut dengan nama lain akan tetap harum. Meskipun nama diganti dan dirubah, bunga mawar tersebut akan terlihat indah dan tetap harum. Benar,  secara substansi bunga tersebut tidak akan berubah keharuman dan keindahannya. Akan tetapi, pertanyaannya adalah mengapa bunga tersebut diberi nama ‘bunga mawar’. Tentunya, nama tersebut mengintegrasikan ‘keharuman dan keindahan’ dalam nama tersebut.
Naming is knowledge (penamaan adalah pengetahuan), memberikan nama pada sesuatu objek adalah untuk mengambarkan objek tersebut secara ontologis dan holistik terhadap objek tersebut. Contohnya, memberikan nama untuk  ‘matematika’ sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penjumlahan, penambahan, perkalian dan pengurangan.  Dan mengapa harus diberikan nama ‘matematika’. Inilah yang saya maksud dengan ‘naming is knowledge’. Bahkan  surat-surat  dalam  al-Qur’an juga memiliki nama-nama. Ini menunjukkan nama itu penting.  Oleh sebab itu, nama (name) dan  penamaan (naming) adalah sebuah pengetahuan. Begitu juga dengan nama ‘Zawiyah Cot Kala’ juga sebuah pengetahuan (knowledge).

6. Sebuah Harapan : Refunded  Name  Zawiyah Cot Kala
Kebesaran nama ‘Zawiyah Cot Kala’ yang hidup dimasa lalu dan tetap survive hingga sekarang. Kebesaran namanya dinobatkan pada perguruan tinggi Agama Islam Negeri satu-satu nya di Kota Langsa yakni STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa (sekarang IAIN Langsa). Nama ‘Zawiyah Cot Kala’ selalu melekat dan berjalan bersama dengan perguruan tinggi ini dalam kurun waktu 34 tahun. Dan tiada hentinya mengikuti transformasi atau konversi  kelembagaan sejak perguruan tinggi ini dideklarasikan pada tahun 1980.
Selama 34 tahun, Nama tersebut telah berkontribusi bagi tumbuhnya generasi  intelektual, Nama tersebut selalu ada dipintu perubahan generasi yang belajar di Kampus STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa (sekarang IAIN Langsa). Harapan (hopeful) bahwa nama itu dikembalikan (refunded name) dan dicantumkan kembali pada IAIN Langsa adalah tanggung jawab kita bersama untuk mempertahankan serta meneguhkan kejayaan dan keagungannya.


B. PENUTUP
Mempertahankan  sejarah merupakan hal terpenting, karena generasi saat ini juga akan menjadi sejarah dimasa depan. Semua generasi ada sejarahnya, karena sejarah merupakan kekayaan bangsa. Sejarah juga permata yang tersimpan dalam lembaran-lembaran waktu. Mengeksplorasi  dan belajar darinya, maka sejarah akan bercerita  dan mengkisahkan perjalanan generasi masa lalu kepada kita. Bahkan, untuk mengkonstruksi masa depan sering sekali mencari ide dan gagasan pada masa lalu  agar masa depan menjadi lebih baik dan lebih maju.

No comments:

Post a Comment